RosyidMohammad

  • RSS
  • Skype
  • Facebook
  • Yahoo

Twitter

 Hukum Bekicot

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu binatang yang menjadi polimik tbekicot. Terlebih bagi mereka yang tinggal di iklim tropis, hewan ini sangat mudah dan banyak dijumpai. Namun apapun itu, sejatinya permasalahan halal dan haramnya bekicot termasuk masalah ijtihadiyah, sehingga tidak selayaknya di bawah ke ranah aqidah atau bahkan menjadi sumber perpecahan.
terkait status kehalalannya adalah

Berkaitan dengan hukum bekicot, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan,
Pertama, bekicot ada dua: bekicot darat dan bekicot air
Kita tidak sedang membahas ciri fisiologi masing-masing, karena kita anggap, orang yang mengenal hewan ini, bisa memahami perbedaan bekicot darat dan bekicot air.
Kemudian, untuk bekicot air, baik perairan tawar atau laut, hukumnya halal, meskipun langsung dimasak tanpa disembelih.
Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Quran,
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan… (QS. Al-Maidah: 96)
Ibn Abbas dalam riwayat yang sangat masyhur, mengatakan,
{صيده} ما أخذ منه حيًا {وَطَعَامُهُ} ما لفظه ميتًا
“Binatang buruan laut adalah hewan laut yang diambil hidup-hidup, dan makanan  dari laut adalah bangkai hewan laut.” (Tafsir Ibn Katsir, 3/197).
Al-Bukhari membawakan satu riwayat dari Syuraih, salah seorang sahabat nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. beliau mengatakan,
كُلُّ شَيءٍ فِي الْبَحْرِ مَذْبُوحٌ
“Semua yang ada di laut, statusnya sudah disembelih” (HR. Bukhari secara muallaq).
Kedua, hukum bekicot darat
Bagian inilah yang diperselisihkan ulama.
Pendapat pertama, bekicot darat termasuk hasyarat. Dan hasyarat hukumnya haram. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya: Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Daud Ad-Dhahiri, dan Syafiiyah. An-nawawi mengatakan,
مذاهب العلماء في حشرات الأرض …. مذهبنا أنها حرام ، وبه قال أبو حنيفة وأحمد وداود . وقال مالك : حلال
“Madzhab-madzhab para ulama tentang hewan melata bumi…, madzhab kami (syafiiyah) hukumnya haram. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Daud. Sementara Malik mengatakan, boleh.” (Al-Majmu’, 9/16)
Ibnu Hazm mengatakan,
ولا يحل أكل الحلزون البري , ولا شيء من الحشرات كلها : كالوزغ ، والخنافس , والنمل , والنحل , والذباب , والدبر , والدود كله – طيارة وغير طيارة – والقمل , والبراغيث , والبق , والبعوض وكل ما كان من أنواعها ؛ لقول الله تعالى : (حرمت عليكم الميتة) ؛ وقوله تعالى (إلا ما ذكيتم)
“Tidak halal makan bekicot darat, tidak pula binatang melata semuanya, seperti: cicak, kumbang, semut, lebah, lalat, cacing dan yang lainnya, baik yang bisa terbang maupun yang tidak bisa terbang, kutu kain atau rambut, nyamuk, dan semua binatang yang semisal. Berdasarkan firman Allah, yang artinya: “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah…..” kemudian Allah tegaskan yang halal, dengan menyatakan, “Kecuali binatang yang kalian sembelih.”
Kemudian Ibn Hazm menegaskan,
وقد صح البرهان على أن الذكاة في المقدور عليه لا تكون إلا في الحلق ، أو الصدر , فما لم يقدر فيه على ذكاة : فلا سبيل إلى أكله : فهو حرام ؛ لامتناع أكله ، إلا ميتة غير مذكى
“Sementara dalil yang shahih telah mengaskan bahwa cara penyembelihan yang hanya bisa dilakukan pada leher atau dada. Untuk itu, hewan yang tidak mungkin disembelih, tidak ada jalan kaluar untuk bisa memakannya, sehingga hukumnya haram. Karena tidak memungkinkan dimakan, kecuali dalam keadaan bangkai, yang tidak disembelih. (Al-Muhalla, 6/76).
Pendapat kedua, merupakan kebalikannya, bekicot hukumnya halal. Ini adalah pendapat Malikiyah. Mereka punya prinsip bahwa hewan yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah, tidak harus disembelih. Mereka mengqiyaskannya sebagaimana belalang.
Cara menyembelihnya bebas, bisa dengan langsung direbus, dipanggang, atau ditusuk dengan kawat besi, sampai mati, sambil membaca basmalah.
Dalam Al-Mudawanah dinyatakan,
“سئل مالك عن شيء يكون في المغرب يقال له الحلزون يكون في الصحارى يتعلق بالشجر أيؤكل ؟ قال : أراه مثل الجراد ، ما أخذ منه حيّاً فسلق أو شوي : فلا أرى بأكله بأساً , وما وجد منه ميتاً : فلا يؤكل
Imam Malik ditanya tentang binatang yang ada di daerah maroko, namanyabekicot. Biasanya berjalan di bebatuan, naik pohon. Bolehkah dia dimakan?
Imam Malik menjawab:
“Saya berpendapat, itu seperti belalang. Jika ditangkap hidup-hidup, lalu direbus atau dipangggang. Saya berpendapat, Tidak masalah dimakan, namun jika ditemukn dalam keadaan mati, jangan dimakan.” (Al-Mudawwanah, 1/542)
Al-Baji juga pernah menukil keterangan Imam Malik tentang bekicot,
ذكاته بالسلق ، أو يغرز بالشوك والإبر حتى يموت من ذلك ، ويسمَّى الله تعالى عند ذلك ، كما يسمى عند قطف رءوس الجراد
“Cara menyembelihnya adalah dengan dimasak, atau ditusuk kayu atau jarum sampai mati. Dengan dibacakan nama Allah (bismillah) ketika itu. Sebagaimana membaca bismillah ketika memutuskan kepala belalang.” (Al-Muntaqa Syarh Muwatha’, 3/110)
Jika perhatikan keterangan di atas, keterangan yang melarang makan bekicot, lebih mendekati kebenaran. Karena bekicot darat termasuk hewan melata yang tidak bisa disembelih. Dan semua binatang yang tidak mungkin bisa disembelih, maka tidak ada cara untuk bisa memakannya, karena statusnya bangkai.
Sisi yang lain, terdapat kaidah yang diakui bersama bahwa tidak mengkonsumsi binatang yang halal dimakan setelah disembelih, termasuk tindakan menyianyiakan harta, yang itu dilarang secara syariat. Sementara binatang seperti membuang bekicot, tidak termasuk bentuk menyia-nyiakan harta.
Sementara mengqiyaskan bekicot dengan belalang, seperti yang dipahami malikiyah, adalah qiyas yang tidak benar. Karena belalang dikecualikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hukum bangkai yang haram. Sementara bekicot tetap harus disembelih (menurut Malikiyah), hanya saja dengan cara yang tidak pada umumnya diterapkan.
Demikian keterangan tarjih yang dipilih oleh Syaikh Ali Farkus

Sholat banyak memiliki manfaat. Sholat dapat menjauhkan kita dari godaan setan, membawa berkah, memelihara kenikmatan, menghindari bencana, melapangkan dada, menyegarkan rohani, menghilangkan kemalasan, menenangkan jiwa, memperkuat hati, dan mengaja kesehatan. Kali ini ROSYID akan mengulas lebih lanjut bagaimana manfaat dari gerakan sholat bagi kesehatan kita.

Posisi Berdiri 
Dalam posisi ini, badan kita harus berdiri tegak lurus. Pada saat ini lah tulang belakang kita mengalami pelurusan dan ini lah yang menjadi awal dari latihan pernafasan, pencernaan, dan tulang.

Takbiratul Ihram
Pada saat takbiratul ihram, kita berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Takbir merupakan awal dari latihan pernafasan, saat kita mengangkat lengan dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya paru-paru. Dan mengangkat tangan berarti meregangnya otot-otot bahu hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar. Selain itu, gerakan ini dapat melatih otot lengan. Gerakan pada saat kedua tangan kita didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah dapat menghindarkan kita dari berbagai gangguan persendian, khususnya tubuh bagian atas.

Rukuk
Posisi rukuk yang sempurna adalah pada saat posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Posisi sejajarnya bahu dan leher ketika sedang rukuk dapat memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher. Pada saat rukuk, posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot – otot bahu hingga ke bawah.

I’tidal
I’tidal adalah gerakan pada saat bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga. Gerakan sholat dati berdiri membaca takbir, rukuk dengan membungkuk, dan kembali berdiri lagi pada saat I’tidal merupakan gerakan melatih pencernaan yang baik. Organ pencernaan di perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian, hal ini membuat pencernaan menjadi lebih lancar.

Sujud
Pada saat bersujud, posisi tubuh kita menungging dan kedua tangan, lutut, ujung kaki dan dahi bertumpu pada lantai. Lakukanlah gerakan sujud dengan tenang, bersungguh-sungguh dan jangan tergesa-gesa agar oksigen dapat mengalir dengan maksimal ke otak. Rasulullah pun sering lama dalam bersujud karena pada saat sujud lah kita merasa total dalam menyerahkan diri kepada Allah. Pada saat ini kita merasa menjadi makhluk yang lemah dan rendah. Apabila kita sedang merasakan stress tentunya saat bersujud lah kita dapat melepaskan segala beban dan hanya berpasrah kepada Allah.

Duduk
Kita dapat mengaktifkan kelenjar keringat pada saat posisi duduk karena pada saat itu lah lipatan paha dan betis bertemu sehingga dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita.
Selain itu, posisi duduk dalam sholat ada pada saat kita melakukan tahiyyat awal dan tahiyyat akhir dengan posisi telapat kaki yang berbeda. Pada saat tahiyyat awal, badan kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiandius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tidak mampu berjalan. Posisi telapak kaki pada saat tahiyyat awal dan akhir menyebabkan otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ – organ gerak kita.

Salam
Pada saat sedang salam, kita memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Gerakan ini dapat merelaksakikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah bening di leher ke jantung.
Sudah tahu kan kalau sholat juga memberikan banyak manfaat untuk kesehatan kita. Ternyata gerakan sholat lebih canggih yah daripada yoga. Melaksanakan sholat 5 waktu secara terus menerus bukan hanya dapat menyuburkan iman, tetapi dapat menyehatkan jiwa dan rohani serta mempercantik diri dari luar dan dalam. Subhanallah sekali ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasalam kepada kita para umatnya.
shukron.



Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm.Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami’ Asegaf di Pasar Kliwon Solo), berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan Ahlaq leluhurnya.
Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaout.


Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi). Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta Rosul yang diawali dari Kota Solo.
Waktu demi waktu berjalan mengiringi syiar cinta Rosulnya, tanpa disadari banyak umat yang tertarik dan mengikuti majelisnya, hingga saat ini telah ada ribuan jama’ah yang tergabung dalam Ahbabul Musthofa. Mereka mengikuti dan mendalami tetang pentingnya Cinta kepada Rosul SAW dalam kehidupan ini.
Ahbabul Musthofa, adalah salah satu dari beberapa majelis yang ada untuk mempermudah umat dalam memahami dan mentauladani Rosul SAW, berdiri sekitar Tahun 1998 di kota Solo, tepatnya Kampung Mertodranan, berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW .
Sampai sekarang, Habib Syech masih melantunkan syair-syair indah nan menggetarkan hati Sholawat Shimthud Durror di berbagai tempat, untuk di Jogja setiap malam Jumat Pahing di IAIN SUKA, Timoho.
Sholawat rutin :
setiap hari Rabu Malam dan Sabtu Malam Ba’da Isyak di Kediaman Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf .

Pengajian Rutin Selapanan Ahbabul Musthofa
- Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon ) di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.
- Kudus ( Malam Rabu Pahing ) di Halaman Masjid Agung Kudus.
- Jepara ( Malam Sabtu Legi ) di Halaman Masjid Agung Jepara .
- Sragen ( Malam Minggu Pahing ) di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.
- Jogja ( Malam Jum’at Pahing ) di Halaman PP. Minhajuttamyiz, Timoho, di belakang Kampus IAIN.
- Solo ( Malam Minggu Legi ) di Halaman Mesjid Agung Surakarta.


Jangan hanya main band meniru dan mengidolakan gaya orang-orang kafir, tapi Nabi sendiri tidak pernah ditiru dan dipuji puji! Sudah saatnya bersholawat, menjunjung, memuji dan meniru Nabi Muhammad SAW agar memperoleh syafaatnya dan beliau mengakui kita sebagai umatnya, karena percuma saja kita yg mengaku ngaku umatnya, tapi tidak pernah bersholawat. 


Syaikh Yahya at-Tikriti berkata, “Ketika Syaikh Musa bin Hamman az-Zuli singgah di baghdad dalam perjalanan hajinya, aku bersama ayahku menemani beliau bertemu Syaikh Abdul Qodir al-Jiili. Dihadapan sang Syaikh, Syaikh Musa menunjukkan penghormatan dan ada yg belum pernah aku lihat beliau lakukan kepada orang lain. Setelah kami selesai dan keluar, ayahku berkata kepada beliau, “Belum pernah aku melihat Anda memberikan penghormatan sedemikian besar sebagaimana yang Anda lakukan kepada Syaikh Abdul Qodir”. Beliau menjawab, “Syaikh Abdul Qodir adalah manusia terbaik pada saat ini. Saat ini beliau adalah sultan para wali dan pemimpin para aarif. Bagaimana mungkin aku tidak bersopan santun kepada orang yg disantuni oleh para malaikat langit””


Pemimpin para Syaikh, Syaikh Abdul Latif bin Syaikh Abil Barakat Ismail bin Ahmad an-Naisaburi berkata, “Tahun 590 H di damaskus, aku mendengar Syaikh Arsalan berkata, “Telah dikatakan bahwa Syaikh Abdul Qodir merupakan pancaran Ilahi dan salah seorang afrad. Beliau berbicara dengan hikmah dan diserahkan kepadanya otoritas atas semesta untuk mengambil, menolak, memberi, dan menerima. Beliau adalah wakil Rosulullah saw””



Syaikh sufi, Syaikh Syihabuddin Umar as-Sahrawardi berkata, “Pada tahun 506 H, aku bersama pamanku Syaikh Abi Najib Abdul Qahir as-Sahrawardi menghadap Syaikh Abdul Qodir Jailani. Aku melihat pamanku bersikap sangat santun dan penuh hormat, duduk diam dihadapannya tanpa suara. Ketika kami pulang, aku bertanya kepadanya tentang kelakuannya itu. Beliau berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak bersikap seperti itu kepada orang yg sempurna, satu-satunya di semesta pada saat ini. Kemudian, bagaimana aku tidak bersikap seperti itu kepada dia yg diberikan otoritas untuk memegang dan melepaskan kalbu dan kondisi spiritualku serta kalbu dan kondisi spiritual para wali”



Syaikh Abu Muhammad (sumber lain menyatakan beliau adalah Syaikh Muhammad asy-Syambaki) berkata, “Syaikh kami Syaikh Abu Bakara al-Hawwar sering menyebut2 Syaikh Abdul Qodir dan berkata, “Akan muncul di iraq di pertengahan abad ke lima. Dan orang2 menceritakan keistimewaan2nya. Bukan berarti ilmuku mendahului apa yg aku dengar. Kemudian tersingkap di hadapanku maqam2 para wali dan beliau berada di tingkat pertama. Setelah itu disingkapkan kepadaku maqam2 para muqarrab (orang2 yg dekat) dan aku mendapati beliau berada di puncaknya. Akhirnya disingkapkan kepadaku tingkatan golongan kasyf dan mendapati beliau paling agung diantara mereka. ALLAH akan menampakkan kepadanya gambaran yg tidak akan ditampakkan kecuali kepada golongan shiddiq dan para ulama ALLAH. Beliaulah yg perkataan dan perbuatannya dijadikan panutan. Dengan berkahnya ALLAH berkenan mengangkat banyak hamba-NYA kederajad yg tinggi. Dialah yg akan dibanggakan oleh ALLAH kepada seluruh umat pada hari kiamat. Ridha ALLAH atas dirinya dan semoga berkahnya mendatangkan manfaat bagi kita semua di dunia dan di akhirat.



Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH...

BELAJAR ILMU LADUNI DARI NABI KHIDIR A.S


BELAJAR ILMU LADUNI DARI NABI KHIDIR A.S.
Dr. Mahyuddin bin Ismail
Pensyarah Kanan di Pusat Bahasa Moden & Sains Kemanusiaan
Universiti Malaysia Pahang
Baru-baru ini, penulis dimaklumkan ada hamba Allah di Pahang dan Negeri Sembilan yang mendakwa selalu dikunjungi oleh Nabi Khidir a.s. dalam pelbagai rupa untuk membantunya melakukan rawatan. Di Terengganu pula, ada yang mendakwa diajar ilmu laduni oleh Nabi Khidir dan orang-orang tertentu. Mungkin ini adalah satu kelebihan yang Allah SWT kurniakan kepada mereka dan ia tidak mustahil boleh terjadi. Namun, dari satu sudut, kita perlu merujuk kepada Al-Quran dan sunnah untuk menilai sama ada ianya sesuatu yang benar dari Allah SWT, atau hanya tipu daya jin, syaitan dan iblis.
Dalam Al-Quran, terdapat satu kisah pertemuan antara Nabi Musa a.s. dengan Nabi Khidir a.s. untuk mempelajari ilmu laduni. Rasanya elok jika kisah ini dikupas sebagai pendedahan dan panduan dalam memahami perkara-perkara aneh dan luarbiasa ini. Kisah ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surah Al-Kahfi bermula ayat 60-82. Menurut Imam al-Razi dalam tafsirnya, Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah SWT, adakah terdapat manusia yang lebih alim dari baginda. Lalu Allah SWT berfirman bahawa ada seorang hamba yang lebih alim iaitu Khidir. Nabi Musa a.s. lalu memohon kepada Allah SWT untuk bertemu dan belajar dari Khidir. Para ulama berselisih pendapat tentang siapakah Khidir ini. Ada yang mengatakan beliau adalah wali Allah. Namun, majoriti berpendapat bahawa beliau adalah salah seorang Nabi.
Perjalanan Musa yang jauh untuk bertemu Khidir
Kita mulakan kisah ini dengan meneliti firman Allah SWT dalam surah Al-Kahfi, ayat 60: "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai di pertemuan dua buah lautan; atau aku akan terus berjalan sampai bertahun-tahun."
Ayat di atas menceritakan beberapa syarat penting untuk bertemu Khidir. Syarat yang pertama ialah kesungguhan dan kesabaran yang tinggi. Itulah yang dipamerkan oleh Nabi Musa a.s. Baginda berazam tidak akan berhenti berjalan walaupun terpaksa mengambil masa bertahun-tahun semata-mata untuk bertemu Khidir. Syarat kedua, sifat merendah diri dan tawaddu’. Walaupun Musa sudah bergelar Rasul dan mempunyai murid dan pengikut yang ramai, baginda tetap merendah diri untuk berguru dengan seorang nabi yang bukan bertaraf rasul. Yang ketiga, masa dan lokasi pertemuan adalah rahsia dan tiada siapa boleh menentukannya kecuali Allah SWT. Nabi Musa hanya diperintahkan membawa bekalan dan berjalan terus sehingga sampai pertemuan antara dua laut yang baginda sendiri tidak tahu di mana dan bila. Ketiga-tiga syarat di atas jelas menunjukkan bahawa untuk bertemu dengan Nabi Khidir bukan semudah yang disangka. Hatta Nabi Musa yang bergelar ulul azmi pun terpaksa menempuh perjalanan yang jauh dan sukar sebelum diizinkan Allah SWT bertemu dengan Nabi Khidir. Oleh itu, sekiranya ada yang mendakwa selalu dikunjungi Nabi Khidir, maka perhatikanlah tahap kesungguhan dan keazaman yang ada pada orang itu. Jika ternyata dia seorang yang tiada kesungguhan dan tiada sifat mujahadah dalam melawan hawa nafsu, maka dakwaan tersebut perlu dinilai semula.
Titik Pertemuan Musa dan Khidir suatu yang rahsia
Kita sambung kisah seterusnya dengan meneliti firman Allah SWT dalam ayat 61-65: "Maka ketika mereka berdua sampai di pertemuan dua buah laut itu, maka mereka berdua terlupa akan hal ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan melampaui tempat itu, berkatalah Musa kepada muridnya: 'Bawalah ke mari makanan tengahari kita; sesungguhnya kita merasa letih kerana perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab: 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. "
Ayat di atas mengisahkan dugaan-dugaan dihadapi oleh Nabi Musa dalam perjalanannya untuk bertemu Khidir. Yang pertama ialah keletihan yang dialaminya setelah menempuh perjalanan yang amat jauh. Ketika tertidur akibat kepenatan, berlaku satu peristiwa aneh. Ikan yang dibawa mereka sebagai bekalan tiba-tiba hidup dan melompat berenang ke laut. Peristiwa ini disaksikan oleh muridnya Yusya’ bin Nun. Malangnya, syaitan telah menjadikan beliau lupa untuk menceritakan hal tersebut kepada Nabi Musa. Lalu mereka meneruskan perjalanan yang jauh sehingga Nabi Musa sekali lagi keletihan. Kejadian ini menunjukkan bahawa pertemuan dengan Nabi Khidir bukan sahaja akan diuji dengan kesusahan dan kepayahan, malah syaitan akan turut datang untuk mengagalkannya. Oleh itu, sekiranya seseorang mendakwa sering bertemu dengan Nabi Khidir tanpa melalui sebarang ujian dan dugaan, maka kita perlu bertanya adakah yang datang itu benar-benar Nabi Khidir atau syaitan yang cuba memesongkan kita? Sama-sama kita fikirkan.
Syarat untuk belajar dari Khidir
Kisah ini diteruskan dengan firman Allah SWT dalam ayat 66-70:"Musa berkata kepada hamba Allah itu: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada ku ilmu dari apa yang telah Allah ajarkan pada kamu?” Jawab hamba Allah itu:" Sesungguhnya kamu Musa sekali-kali tidak sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." Musa pun menjawab," Insya Allah kamu akan mendapati aku seorang yang sabar dan tidak akan menentang kamu dalam sesuatu urusan pun." Hamba Allah itu berkata:"Jika kamu mengikutiku maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu."
Dari ayat di atas, terdapat perbezaan antara permintaan Musa yang penuh dengan kesopanan dengan jawapan Khidir yang tegas menyatakan bahawa Musa tidak akan mampu bersabar dengannya. Dialog ini membuka satu rahsia besar yang menjadi syarat utama untuk seseorang dikurniakan ilmu laduni iaitu sifat kesabaran yang tinggi dan sifat redha dengan apa yang terjadi. Sejak awal lagi, Khidir telah mengingatkan Musa akan hal ini. Jika Nabi Musa yang dikurniakan ilmu dari kitab Taurat dan mukjizat yang hebat pun tidak mampu bersabar, inikan pula kita manusia biasa yang sangat cetek ilmu. Jika Nabi Musa yang dikurniakan kelebihan dapat berdialog secara terus dengan Allah SWT pun dikenakan syarat supaya jangan bertanya, bagaimana pula dengan kita yang sering mempersoalkan ketentuan dan takdir Allah SWT. Oleh itu, sekiranya seseorang mendakwa mempelajari ilmu laduni tanpa dilengkapi sabar dan redha, maka kita perlu menyiasat adakah yang mengajar itu benar-benar Nabi Khidir.
Ujian pertama: Khidir merosakkan kapal
Dilanjutkan kisah ini dengan firman Allah SWT dalam ayat 71-73:"Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki bahtera lalu Khidir melubanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melubangi bahtera itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.' Dia (Khidir) berkata: 'Bukankah aku telah berkata: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.' Musa berkata: 'Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.'
Ayat ini membuktikan kebenaran peringatan awal yang diberikan oleh Khidir kepada Musa. Tindakan aneh Khidir memecahkan dinding bahtera milik nelayan yang ditumpangi secara percuma itu menimbulkan persoalan di hati Musa. Sebab itulah Musa telah diberi peringatan agar berdiam diri dan merahsiakan sahaja apa yang terlintas di hati. Kisah ini sebenarnya memberi pengajaran bahawa seseorang yang dikurniakan ilmu laduni perlu bersabar dan menahan diri dari mempersoalkan apatah lagi bercerita tentang keajaiban dan keanehan ilmu kepada sesiapa. Oleh itu, sekiranya kita mendakwa memperolehi ilmu laduni dan asyik menceritakannya kepada orang, maka kita perlu bertanya adakah benar itu ilmu laduni? Sama-sama kita fikirkan.
Ujian kedua: Khidir membunuh kanak-kanak
Kisah tersebut disambung Allah SWT melalui firmanNya dalam ayat 74-76: “Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan kerana dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.' Khidir berkata: 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahawa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?' Musa berkata: 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.'
Jika tadi Musa diuji oleh Khidir dengan kerosakan pada harta, sekarang Musa diuji pula dengan pembunuhan yang dilakukannya ke atas seorang kanak-kanak. Sebagai seorang Nabi yang memahami syariat, Musa dengan lantang bertanya Khidir tentang perkara itu. Lantas Khidir kembali mengingatkan Musa bahawa dia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Begitulah ujian demi ujian yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendapatkan ilmu dan hikmah dari Nabi Khidir. Sabar dan redha sebenarnya adalah kunci kepada ilmu laduni. Justeru, seharusnya kita fikirkan adakah tahap kesabaran kita mencapai tahap kesabaran Nabi Musa yang tergolong dalam salah seorang Rasul yang mempunyai keazaman yang teguh (ulul Azmi)?
Ujian Ketiga: Khidir membaiki tembok
Allah SWT seterusnya berfirman dalam ayat 77-78:Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: 'Jikalau kamu mau, nescaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidir berkata: 'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
Dalam kejadian terakhir ini, kedua-duanya tiba di sebuah desa dalam keadaan tersangat letih, haus dan lapar. Mereka berdua meminta makanan daripada penduduk desa itu, tetapi penduduk desa enggan menjamu mereka. Dalam keadaan itu, Khidir berusaha membina semula dinding sebuah rumah yang hampir roboh di desa itu. Perbuatannya membuatkan Musa kehairanan lalu bertanya mengapa tidak diambil upah atas kerjanya itu. Peristiwa ini menunjukkan bahawa seorang yang ingin berguru atau bersahabat dengan Khidir mestilah mempunyai sifat ikhlas yang tinggi. Dia seharusnya tidak menjadikan sikap buruk seseorang sebagai penghalang untuk dia berbakti kepada orang lain. Apa yang diharapkannya hanyalah keredhaan Allah SWT, bukannya habuan dunia. Ada ulama mengatakan bahawa pertanyaan Musa kepada Khidir tentang kejadian pertama (merosakkan bahtera) dan kejadian kedua (membunuh kanak-kanak) masih boleh dimaafkan oleh Khidir kerana Musa berbuat demikian demi kebaikan umat dan berlandaskan hukum syariat. Namun, apabila Musa mempersoalkan bayaran upah atas kerja yang dilakukan, pertanyaan tersebut mempunyai unsur keduniaan dan kepentingan diri. Pertanyaan itulah yang menjadi titik pemisah antara mereka berdua. Oleh itu, bagi seseorang yang benar-benar belajar ilmu laduni dari Nabi Khidir, sudah pasti dia dapat memahami dan mengerti akan makna sebenar ikhlas dan ihsan.
Rahsia Kenapa Khidir Merosakkan Bahtera
Bagi menghuraikan rahsia perbuatan Nabi Khidir, Allah SWT berfirman dalam ayat 78-79: “Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku sengaja merosakkan bahtera itu, kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”
Perbuatan Khidir merosakkan bahtera nelayan merupakan salah satu cabang ilmu laduni yang berupa kasyaf. Dengan kurniaan tersebut, Khidir dapat melihat apa yang sedang berlaku di pelabuhan yang jauh dari lokasi mereka berada. Khidir melihat setiap bahtera yang sampai di pelabuhan tersebut diperiksa oleh raja. Bahtera-bahtera yang berkeadaan elok akan dirampas, manakala bahtera yang rosak dan berlubang akan dibiarkan. Oleh sebab itu, Khidir sengaja melubangi bahtera itu agar raja tidak akan merampasnya. Dikalangan ahli sufi, kasyaf ini dikenali sebagai Toyyu al-Makan iaitu hijab pandangan zahir dilipat atau diangkat sehingga seseorang mampu melihat apa yang sedang berlaku di satu tempat yang jauh dari tempat ia berada. Saidina Umar r.a. pernah dikurniakan kasyaf ini sehingga beliau dapat melihat tentera Islam yang berada kira-kira 500 km dari Madinah dalam keadaan bahaya. Bagaimanapun, kasyaf sebegini hanya terjadi sekali sekala dan tidak boleh diprogramkan. Oleh kerana itu, pada malam Saidina Umar dibunuh, beliau tidak nampak musuh yang hendak menikamnya walaupun musuh itu berada di belakang beliau. Sekiranya seseorang dikurniakan kasyaf sebegini, ia perlu disembunyikan dan tidak boleh dihebahkan. Itulah yang ditunjukkan oleh Khidir a.s. Baginda tidak menceritakan apa yang dilihatnya kepada Musa sehingga menyebabkan Musa tidak dapat bersabar atas tindakannya itu. Oleh itu, sekiranya seseorang itu mendakwa dikurniakan kasyaf dan ianya dihebah-hebahkan kepada orang lain, itu menandakan kasyaf tersebut bukan ilmu laduni, tetapi adalah kasyaf dari jin dan syaitan.
Rahsia Kenapa Khidir Membunuh budak
Allah SWT mengungkapkan rahsia seterusnya dalam dalam ayat 80-81: “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khuatir bahawa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).”
Dalam kejadian ini, Nabi Khidir dikurniakan kasyaf sehingga dapat melihat apa yang akan berlaku di masa lepas dan masa hadapan. Ini dikenali sebagai Toyyu al-Zaman iaitu hijab pandangan zahir dilipat atau diangkat sehingga boleh melihat merentasi masa. Menurut Imam al-Khazin dalam kitabnya Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani Al-Tanzil, budak yang dibunuh Nabi Khidir As bernama Haisur. Ibu dan bapanya adalah orang yang soleh. Dengan izin Allah SWT, Khidir dapat melihat apa yang telah dilakukan oleh budak ini pada masa lepas dan akan datang. Budak ini selalu mencuri dan apabila dewasa, dia akan menjadi kafir dan memaksa kedua orang tuanya kepada kekufuran. Peristiwa ini menunjukkan bahawa Khidir a.s. adalah seorang yang sangat berhati-hati dalam soal iman dan akidah. Baginda tidak akan membiarkan seseorang memaksa seorang yang lain melakukan kekufuran. Oleh itu, sekiranya seorang yang mendakwa dirinya dikurniakan ilmu laduni dengan tujuan untuk bermegah dan menunjukkan kehebatan diri, sudah pasti orang itu akan dihukum oleh Nabi Khidir lantaran perbuatan bermegah-megah dan menunjuk-nunjuk itu adalah sebahagian dari perbuatan kufur.
Rahsia Kenapa Khidir Membina Semula Tembok
Berkenaan rahsia tembok, Allah SWT berfirman dalam ayat 82: “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”
Apa yang diungkapkan Khidir menunjukkan bahawa pengetahuan baginda tentang sesuatu yang ghaib adalah kurniaan secara langsung dari Allah SWT. Ini adalah bukti bahawa ilmu laduni tidak boleh dipelajari atau diwarisi. Ianya dikurniakan terus dari Allah SWT untuk hamba-hambaNya yang mempunyai sifat ikhlas hati dan kesabaran yang tinggi. Sesiapa yang mendakwa dapat mempelajari ilmu laduni dari seseorang, sesungguhnya dakwaan tersebut adalah batil.
Demikianlah pelajaran dan pengajaran yang didapati dari kisah pengembaraan Nabi Musa dan Nabi Khidir. Walaupun kelihatan seolah-olah Musa gagal memperolehi ilmu laduni, sebenarnya tidak begitu. Hasil ujian yang dilalui Musa ketika bersama Khidir, baginda dikurniakan kasyaf yang istimewa iaitu dibukakan hijab pandangan batin sehingga dapat melihat kekurangan diri sendiri seperti rasa besar diri, gopoh, kurang mujahadah, kurang syukur, kurang keyakinan kepada Allah SWT dan pentingkan diri. Hasilnya, Allah SWT kurniakan ilmu laduni yang lebih istimewa secara terus ke dalam hati baginda iaitu sifat tawaddu’, sabar, mujahadah, ikhlas, syukur, tawakal, redha dan mahabbah. Sifat-sifat tersebut lebih penting kerana ia akan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Ianya lebih bernilai berbanding mendapat ilmu kasyaf suwari (iaitu kebolehan melihat gambaran sesuatu yang telah atau akan berlaku) yang hanya bersifat duniawi. Inilah yang dianjurkan dalam Islam agar kita dapat mengenal kekurangan diri dan memperbaikinya agar menjadi hamba Allah yang benar-benar bertaqwa.
Berdasarkan kisah ini, para ulama tasauf mengatakan sekiranya seseorang ingin memperbaiki hati yang rosak dan dipenuhi sifat mazmumah, maka dia perlu mencari seorang guru mursyid yang memahami syariat dan hakikat. Mudah-mudahan guru tersebut dapat membantu kita mengenalpasti kekurangan diri dan membimbing proses pembersihannya (tazkiyyah an-Nafs). Apabila hati telah bersih, maka mudahlah cahaya ilmu Allah untuk menyuluh masuk. Apabila cahaya ini sudah menerangi hati, maka ia akan menyuburkan sifat-sifat mahmudah sebagaimana yang dikurniakan kepada Nabi Musa a.s. Itulah sebahagian cahaya dari pelbagai cahaya ilmu laduni milik Allah SWT yang sebenar.

Beberapa Keutamaan Sholat Malam



Pada tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai fadillah sholat malam, berikut akan dijabarkan kembali mengenai keutamaan sholat malam. Pada kesempatan ini akan diuraikan mengenai 14 keutamaan sholat malam. Banyak hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan fadillah dan keutamaan sholat malam diantaranya :

Pertama : Sholat malam adalah ibadah yang biasa dikerjakan orang-orang sholeh, ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, penghapus berbagai kesalahan dan pencegah dari perbuatan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Hendaklah kalian sholat malam, karena sholat malam adalah kebiasaan yang dikerjakan orang-orang sholeh sebelum kalian, ia adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus berbagai kesalahan dan pencegah perbuatan dosa." (HR. Tirmidzi)

Kedua : Sholat malam merupakan sholatnya para abraar (orang-orang yang banyak berbuat kebaikan), Nabi SAW jika mendoakan salah seorang diantara sahabat beliau berkata :
"Semoga Allah menjadikan atas kamu sholatnya orang-orang yang banyak berbakti, mereka sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari, mereka tidak mempunyai dosa dan tidak pula melakukan kejahatan." (HR. Abd al-Humaid dan abd-Dhiyaa' al Maqdisi dan disahihkan oleh Syeikh al-Albani r.a [silsilah al-Ahadits ash-Shahiihah no : 1810])

Ketiga : Sholat malam adalah sholat yang disaksikan (masyhudah). Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya dekat-dekatnya Allah kepada seorang hamba adalah di tengah malam, maka jika kamu mampu tergolong orang-orang yang mengingat Allah pada saat itu, jadilah." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam "shahihnya" no : 1085)
Dari Amr bin Abasah r.a. berkata :
Aku berkata : Wahai Rasulullah, (bagian) dari malam manakah yang paling didengar (oleh Allah)? beliau bersabda : "Pertengahan malam yang terakhir, maka sholatlah sesukamu, karena sholat tersebut disaksikan dan dicatat hingga kamu sholat subuh." (HR. Abu Dawud)
Hadits Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya seorang hamba bila bersiwak, lalu berdiri mengerjakan sholat, maka berdirilah seorang malaikat dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya dengan seksama kemudian dia mendekatinya - atau beliau mengucapkan kalimat seperti itu - hingga malaikat itu meletakkan mulutnya di atas mulutmu, maka tidaklah keluar dari mulutnya bacaan Al-Qur'an itu melainkan langsung ke perut malaikay, oleh sebab itu bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk membaca Al-Qur'an."

Keempat : Sholat malam salah satu amal yang menyebabkan pelakunya masuk surga berdasarkan sabda Nabi SAW :
"Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan dan sholatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur lelap, niscaya kamu masuk surga dengan penuh kedamaian." (HR. Ibnu Majah)

Kelima : Orang yang bangun dari tidurnya untuk mengerjakan sholat niscaya akan terlepas dari ikatan setan, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
"Setan mengikat tiga ikatan pada bagian belakang kepala salah seorang di antara kamu ketika tidur, dia mengencangkan setiap ikatan itu (seraya berkata) malam yang panjang bagimu, maka tidurlah! jika ia bangun lalu mengingat Allah, terlepaslah satu ikatan, jika ia berwudhu maka terbukalah satu ikatan lagi, dan jika ia sholat terbukalah sata ikatan lagi, lalu ia menjadi semangat lagi veria dan jika tidak, jiwanya menjadi jelek lagi malas." (HR. Bukhari)